Tempat shalat sunnah terbaik

Tempat yang Paling Utama untuk Shalat Sunnah ( asbabul wurud )

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Zaid bin Tsabit bahwa Rasulullah saw, bersabda: صَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ، فَإِنَّ أَفْضَلَ صَلاَةِ المَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا الصَّلاَةَ المَكْتُوبَةَ “Shalatlah kalian wahai sekalian manusia di dalam rumah-rumah kalian, karena (seutama-utama) shalat seseorang adalah dirumahnya kecuali (shalat) fardhu.” Sababul Wurud Hadits Ke- 17: Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bukhari, (dan Muslim) dari Zaid bin Tsabit bahwa Nabi saw pernah membuat bilik dari tikar di dalam masjid. Rasulullah saw, shalat beberapa malam di bilik tersebut, hingga orang-orang pun ikut bergabung dengan beliau. Kemudian pada suatu saat mereka kehilangan suara Nabi. Sangkaan mereka bahwa beliau sedang tidur, hingga sebagian di antara mereka ada yang berdehem agar beliau keluar menemui mereka. Lalu beliau bersabda: “Aku senantiasa memperhatikan apa yang kalian perbuat hingga akhirnya aku khawatir shalat ini diwajibkan kepada kalian, seandainya diwajibkan atas kalian, pastilah kalian tidak mampu melaksanakannya. Maka shalatlah kalian, wahai sekalian manusia, di dalam rumah kalian (masing-masing), karena seutama-utama shalat seseorang adalah di rumahnya, kecuali shalat fardhu.” Tahqiq ke 17 Hadits Ke-17: Hadits tersebut adalah bagian dari hadits milik al-Bukhari dalam kitab: al-‘Itsham bil Kitab wa as-Sunnah, bab: Ma Yukrahu min Katsrati as-Su’al wa Takallufi Ma la Ya’nih (Hal-hal yang Dibenci Berupa Banyak Bertanya dan Membebankan Diri dengan Hal yang Tidak Bermanfaat, (9/117)); Dan diriwayatkan oleh an-Nasa’i dalam kitab: Qiyam al-Lail wa Tathawwu’ fi an-Nahar, bab: al-Hitstsu ala ash-Shalah fi al-Buyut wa al-Fadhlu fi Dzalik (Anjuran Melaksanakan Shalat di Rumah dan Keutamaannya, (3/161)); Ahmad 5/82, dan ia juga bagian dari hadits milik Muslim dalam kitab: Shalatu al-Musafirin wa Qashruha, bab: ash-Shalah fi ar-Rihal fi al-Mathar (Shalat di Dalam Rumah Lantaran Hujan (2/348)), dan juga dalam kitab: al-Masajid, bab: Istihbab Shalatu an-Nafilah fi Baitih wa Jawazih fial-Masjid wa Sawa’fiHadza ar-Ratibah wa Ghairuha (Anjuran Melakukan Shalat Sunnah di Rumah dan Bolehnya di Masjid, Baik itu Shalat Ratibah (Rawatib) atau Lainnya, (2/436)), dari hadits Ibnu Umar bahwasanya Nabi saw bersabda, “Hendaklah kalian menjadikan sebagian dari shalat kalian di dalam rumah-rumah kalian dan jangan kalian menjadikannya laksana kuburan” Sababul Wurud Hadits Ke-17: Hadits tersebut lafazh milik Ahmad 5/182; Dan diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab: al-‘Itsham bil Kitab wa as-Sunnah, bab: Ma Yukrahu min Katsrati as-Su’al wa Takallufi Ma la Ya’nih wa Qauluhu Ta’ala: La Tas’alu ‘an Asyya’a in Tubda Lakum Tasu’kum (Hal-hal yang Dibenci Berupa Banyak Bertanya dan Membebankan Diri dengan Hal yang Tidak Bermanfaat, dan firman Allah ta’ala (yang artinya), “Janganlah kalian bertanya tentang sesuatu yang jika ditampakkan pada kalian akan menyusahkan kalian sendiri.” (9/117)); Muslim kitab: Shalat al-Musafirin seperti pada bab yang terdahulu 2/348; An-Nasa’i dalam kitab: Qiyam al-Lail wa Tathawwu’ an-Nahar 3/161; Dan Ahmad 5/187 dengan lafazh-lafazh yang hampir berdekatan. Kosa Kata: At-tanahnah wa an-nahnahah: seperti an-nahih yaitu suara yang lebih keras dari batuk. Lihat Lisanul Arab 3/452.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *