UNTUK NGGEDHÈKNÉ ATINE SANTRI


UNTUK NGGEDHÈKNÉ ATINE SANTRI
Ust.Nasrulloh Zarkasyi
(Pak Atul)
Tidak banyak yang tahu, mengapa Pondok Modern Darussalam Gontor (PM Gontor/Gontor) memiliki (membangun) fasilitas pendidikan begitu rupa, permanen, bertingkat serta indah, untuk ukuran pesantren ketika itu, yang pada umumnya masih berupa bedeng, atau gedheg. Saat masjid dibangun pun banyak orang yang heran, untuk apa membangun masjid sebesar itu? Siapa yang mau memakai? Pendeknya, segala sumpah serapah dilontarkan ke Gontor. Akan tetapi, apa yang kemudian terjadi? Sebelum 20 tahun pembangunnnya, masjid itu penuh santri yang shalat, bahkan kemudian tidak lagi muat. Begitulah idealisme, akan mudah dibaca orang awam.
Hingga sekarang pun, ketika dipegang oleh generasi kedua, PM Gontor masih terus membangun fasilitas pendidikan yang “wah!” Bangunan yang dulu hanya satu lantai, sekarang telah menjadi 2–4 lantai; ada lapangan sepakbola berkelas internasional; ada menara masjid yang biaya pembangunannya kurang mencapai lebih Rp 10 milyar; gedung olahraga yang memuat 6 lapangan badminton, dsb. Untuk apa semua itu? Untuk menunjukkan kemodernan pesantren Gontor? Tidak. Untuk menunjukkan kemajuan pondok? Bukan. Untuk menunjukkan kebesaran dan kekayaan kyainya? Apalagi seperti itu, sama sekali, bukan. Menurut K.H. Ahmad Sahal, itu semua untuk “nggedhèkné atiné santri (‘untuk membesarkan hati para santri’).
Kemodernan Gontor terletak pada ajaran dan pendidikannya yang universal, sehingga melahirkan manusia yang diterima oleh kelompok mana saja. Kemajuan pondok tidak hanya dilihat dari bangunan yang ada, melainkan besarnya peranan para alumni, yang berimbas pada bertambahnya kepercayaan masyarakat yang menyekolahkan anak-anaknya ke PM Gontor. Terakhir, bangunan-bangunan itu bukan milik kyai, sebab pondok telah diwakafkan. Meskipun sejengkal, atau satu unit bangunan kecil pun, karena telah diwakafkan, Kyai dan anak turunnya tidak berhak lagi memiliki tanah dan bangunan pondok. Pondok menjadi milik ummat Islam seluruh dunia.
Lain daripada itu, bangunan-bangunan yang ada pun diberi nama lembaga pendidikan, kota yang terkenal atu bersejarah di dunia, negara, atau benua, seperti Ailagrh, Syanggit, Asia, Tunis, Saudi, Syria, dsb. Barangkali, hal itu juga merupakan bagian dari pendidikan universal. Lihat saja! Para santri itu, asramanya, di gedung Palestina. Lantas, setelah makan di dapur dekat Syria, mereka berangkat menuju kelasnya di Sudan. Ada juga yang ketika olahraga mengadakan lomba lari estafet keliling Saudi. Wuih, gila. Keliling Saudi? Padahal, yang dimaksud aalah gedung Saudi, yang jarak lingkarnya tak lebih luas daripada lapangan sepak bola.

Karena memiliki pedoman “Zelf berdruiping sisteem,” (‘sama-sama iuran, sama-sama memakai’), berarti semua santri Gontor, tak terkecuali alumni Gontor berhak memiliki semua fasilitas pendidikan tersebut, dengan waktu pemakaian yang diatur oleh sebuah organisasi santri. Memang, mungkin, alumni itu tidak ikut iuran untuk membangun bangunan-bangunan baru yang sekarang. Namun demikian, merekalah yang dulu menyumbang iuran untuk membangun aktivitas pendidikan yang sekarang dipakai atau ditempati oleh para santri yang datang kemudian. Itu semua, termasuk bertambahnya fasilitas transportasi, dan unit usaha lainnya, adalah juga bukti perkembangan pondok diukur dari Panca Jangka. Apa itu Panca Jangka? Akan penulis uraikan dalam tulisan setelah ini.
Yang jelas, agar tidak sombong, atau merasa berjasa, para santri diberitahu bahwa apa yang sekarang mereka nikmati adalah hasil iuran dari santri terdahulu. Maka, jangan merasa berjasa. Berterima kasihlah kepada para santri terdahulu! Maka, buatlah jasa yang bermanfaat bagi santri-santri yang akan datang berikutnya. Ini saja.
KUOTASI:
Semua bangunan di Gontor itu dimaksudkan untuk membesarkan hati para santri.
Apa yang kita perbuat di Gontor ini bukan hanya unuk kita, melainkan juga untuk orang-orang sesudah kita.
*Berjasalah, tetapi jangan minta jasa.*
*Gontor*, _14 Nopember 2018_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *