Penerimaan Santri Baru

PENERIMAAN SANTRI BARU
PONPES IHYAUL QUR’AN
” NURURRAHMAN ”
WAGIR – MALANG 2019/2020

1.SD Plus ( Tahfidz dan Bilingual )

2.KMI ( Khusus Putra )

3.Program 1 Tahun ( Tahfidz _Kajian hadits,Tafsir dan Kitab Kuning ) _ Sertifikat Muqri’ dan Sanad

4.Pondok Mahasiswa

KURIKULUM PESANTREN
==========

1.Kurikulum Sekolah: Kulliyatul Muallimin Al Islamiyah
( KMI ) Darussalam Gontor
( Dapat Melanjutkan Ke PTN,PTS Dan Perguruan Tinggi Luar Negeri )

2.Kurikulum Tahfidz : Methode Super Tahfidz
Pembina : Ust.Marzuki Ihsan Hafidzallah
Pencapaian Target 4 – 7 Juz dalam 1 Tahun

3 Kurikulum Belajar Membaca AlQuran :
Methode Bil Qolam PIQ Singosari – Malang
Pengasuh : KH.Bashori Alwi Hafidzallah

info :
Telpun : 081235749777
WA : 085748748777

Asbabun Nuzul Surat At-Taghabun, Ayat 14

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

-Surat At-Taghabun, Ayat 14

Asbabun Nuzul

Imam At-Tirmidzi dan Al-Hakim meriwayatkan sebuah riwayat yang mereka nilai shahih dari Ibnu Abbas yang berkata, “Turunnya ayat ini berkenaan dengan sekelompok penduduk Mekkah yang masuk Islam. Akan tetapi, istri dan anak mereka (sekian lama) tidak mau mengizinkan mereka pergi (berhijrah). Ketika orang-orang tersebut sampai di Madinah dan hadir di majelis Rasulullah, mereka lantas melihat para sahabat yang lainnya telah mendalam ilmu agamanya. Akibatnya, mereka bermaksud untuk menghukum istri-istri dan anak mereka tersebut. Allah lantas menurunkan ayat, ‘ …dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah maha pengampun, Maha Penyayang.’ ”

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Atha bin Yassar yang berkata, “Keseluruhan surat At-Taghabun ini turun di Mekkah, kecuali ayat, ‘Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu,…” Ayat ini turun berkenaan dengan Auf bin Malik Al-Asyja’I yang telah memiliki istri dan anaknya itu langsung menangis dan berusaha melunakkan hatinya (agar tidak jadi pergi). Mereka antara lain berkata, ‘Dengan siapa nanti kami akan hidup?’!’Rengekan mereka tersebut berhasil meluluhkan hatinya sehingga ia tidak jadi pergi berperang. Dengan demikian, ayat ini dan ayat-ayat berikutnya hingga akhir surat turun di Madinah.”

Bolehkah Menjamak Shalat Ashar dengan Shalat Jum’at?


Bahwa kebolehan menjama’ shalat Jumat dengan Ashar dibenarkan oleh jumhur ulama, tetapi tidak dibenarkan oleh mazhab Al-Hanafiyah. Dalam hal ini hukumnya memang khilafiyah di antara para ulama.
Bahwa cara menjama’nya dengan shalat Jumat seperti biasa, dengan mendengarkan dua khutbah di awalnya, kemudian mengerjakan shalat Jumat dua rakaat. Selesai itu barulah mengerjakan shalat Ashar dua rakaat juga.
Penjelasan Lengkap
Para ulama sepakat bahwa seorang musafir tidak diwajibkan untuk mengerjakan shalat Jumat, dan untuk itu dia cukup mengerjakan shalat Dzhuhur saja. Dan para ulama juga sepakat bahwa bila seorang musafir dalam perjalanannya mampir di suatu masjid yang sedang berlangsung shalat Jumat lalu ikut dalam shalat Jumat itu, maka kewajibannya untuk shalat Dzhuhur menjadi gugur.
Namun yang menjadi pertanyaan adalah, apakah seusai mengerjakan shalat Jumat itu seorang musafir boleh langsung mengerjakan shalat Ashar dengan cara dijama’, sebagaimana menjama’ antara shalat Dzhuhur dengan shalat Ashar?
Dalam hal ini berkembang perbedaan pendapat di kalangan ulama. Jumhur ulama berpendapat bahwa shalat Jumat sebagaimana shalat Dzhuhur, bisa dijama’ dengan shalat Ashar. Sementara sebagian ulama yang lain, dalam hal ini mazhab Al-Hanabilah, berpendapat sebaliknya, yaitu bahwa shalat Jumat tidak bisa atau tidak boleh dijama’ dengan shalat Ashar.
Berikut ini adalah rincian perbedaan pendapat di tengah ulama :
1. Boleh
Yang berpendapat bahwa shalat Jumat boleh dijama’ dengan shalat Ashar adalah Jumhur ulama seperti mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah dan Asy-Syafi’iyah.
Pendapat mazhab Al-Malikiyah bisa kita temukan tercantum dalam kitab-kitab mazhab tersebut antara lain kitab Syarah Al-Kharsyi wa Hasyiyatu Al-Adwi[1] dan kitab Man’u Al-Jalil[2].
Pendapat mazhab Asy-Syafi’iyah dapat kita temukan dalam kitab-kitab mazhabnya antara lain kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab[3], kitab Asna Al-Mathalib[4], dan kitab Tuhfatul Habib[5].
Kalau kita telaah secara mendalam apa yang dijadikan sebagai dasar atas pendapat mereka, maka bisa kita jabarkan menjadi beberapa catatan penting, antara lain :
a. Tidak Adanya Nash Yang Melarang
Jumhur ulama menyebutkan bahwa tidak ada nash dari Nabi SAW atau pun dari para shahabat beliau yang melarang shalat Jumat dikerjakan dengan cara dijama’ dengan shalat Ashar. Tidak ada satu pun nash yang sharih tentang hal itu, meskipun juga tidak ada nash yang membolehkan.
Namun menurut Jumhur, seandainya menjama’ antara shalat Jum’at dan shalat Ashar itu tidak boleh, seharusnya ada kita dapat larangan itu. Hal itu mengingat bahwa setiap orang pasti tidak terhindar dari melakukan safar di hari Jumat.
Perjalanan antara Mekkah dan Madinah biasa ditempuh dalam waktu seminggu, pastilah semua orang yang menempuh jarak itu akan melewati hari Jumat di dalam perjalanan.
b. Ittihadul Waqti
Jumhur ulama mengatakan bahwa meski shalat Jumat dan shalat Dzhuhur itu berbeda, namun keduanya memiliki kesamaan yaitu ittihadul waqti (إتحاد الوقت). Maksudnya, antara kedua punya waktu pelaksanaan yang satu, yaitu sejak tergelincir (zawal) matahari hingga masuknya waktu shalat Ashar.
Maka kalau shalat Dzhuhur boleh dijama’ dengan Ashar, otomatis shalat Jumat yang waktunya sama dengan shalat Dzhuhur pun berarti boleh dijama’ dengan shalat Ashar
c. Kesamaan ‘Illat
Dalam pandangan Jumhur ulama, meskipun antara shalat Jumat dan shalat Dzhuhur ada perbedaan dalam hukum dan ketentuan, namun tidak bisa dipungkiri bahwa antara kedua ada begitu banyak persamaan dan ‘illat.
Menurut Jumhur ulama, salah satu hikmah dari dibolehkannya menjama’ dua shalat di satu waktu adalah karena syariat Islam punya prinsip untuk memberi keringanan.
Maka akan menjadi tidak konsisten apabila harus dibedakan antara shalat Jum’at dan shalat Dzhur dalam hal kebolehan untuk dikerjakan dengan cara dijama’ dengan shalat Ashar.
Bukankah seorang musafir boleh dan bebas memilih untuk melakukan atau tidak melakukan shalat Jum’at? Lantas mengapa kalau musafir itu memilih untuk mengerjakan shalat Jumat, keringanan yang Allah berikan kepadanya sebagai musafir harus dicabut?
Apa kesalahan yang telah dilakukan oleh musafir itu sehingga dia kehilangan hak untuk menjama’ shalatnya?
d. Kebolehan Qiyas
Dengan begitu banyak terdapatnya kesamaan hukum dan illat antara shalat Jumat dan shalat Dhuhur, maka boleh saja antara keduanya dilakukan qiyas.
Salah satu shahabat yang menqiyas antara shalat Dzhuhur dengan shalat Jumat adalah Anas bin Malik radhiyallahuanhu. Dan qiyas ini juga didukung oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani di dalam kitab Fathul Bari.[6]
e. Prinsip Keringanan
Pada dasarnya Allah SWT sebagai pembuat syariah telah memberikan keringanan kepada para musafir dalam menjalankan ibadah shalat dengan adanya jama’ antara dua waktu shalat.
Maka selama seseorang menjadi musafir, adalah merupakan ketentuan dari Allah bahwa dia berhak mendapatkan keringanan, tanpa harus dibedakan apakah dia menjama’ shalat Dzhuhur dengan shalat Ashar ataukah dia menjama’ shalat Jumat dengan Ashar.

Tempat shalat sunnah terbaik

Tempat yang Paling Utama untuk Shalat Sunnah ( asbabul wurud )

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Zaid bin Tsabit bahwa Rasulullah saw, bersabda: صَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ، فَإِنَّ أَفْضَلَ صَلاَةِ المَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا الصَّلاَةَ المَكْتُوبَةَ “Shalatlah kalian wahai sekalian manusia di dalam rumah-rumah kalian, karena (seutama-utama) shalat seseorang adalah dirumahnya kecuali (shalat) fardhu.” Sababul Wurud Hadits Ke- 17: Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bukhari, (dan Muslim) dari Zaid bin Tsabit bahwa Nabi saw pernah membuat bilik dari tikar di dalam masjid. Rasulullah saw, shalat beberapa malam di bilik tersebut, hingga orang-orang pun ikut bergabung dengan beliau. Kemudian pada suatu saat mereka kehilangan suara Nabi. Sangkaan mereka bahwa beliau sedang tidur, hingga sebagian di antara mereka ada yang berdehem agar beliau keluar menemui mereka. Lalu beliau bersabda: “Aku senantiasa memperhatikan apa yang kalian perbuat hingga akhirnya aku khawatir shalat ini diwajibkan kepada kalian, seandainya diwajibkan atas kalian, pastilah kalian tidak mampu melaksanakannya. Maka shalatlah kalian, wahai sekalian manusia, di dalam rumah kalian (masing-masing), karena seutama-utama shalat seseorang adalah di rumahnya, kecuali shalat fardhu.” Tahqiq ke 17 Hadits Ke-17: Hadits tersebut adalah bagian dari hadits milik al-Bukhari dalam kitab: al-‘Itsham bil Kitab wa as-Sunnah, bab: Ma Yukrahu min Katsrati as-Su’al wa Takallufi Ma la Ya’nih (Hal-hal yang Dibenci Berupa Banyak Bertanya dan Membebankan Diri dengan Hal yang Tidak Bermanfaat, (9/117)); Dan diriwayatkan oleh an-Nasa’i dalam kitab: Qiyam al-Lail wa Tathawwu’ fi an-Nahar, bab: al-Hitstsu ala ash-Shalah fi al-Buyut wa al-Fadhlu fi Dzalik (Anjuran Melaksanakan Shalat di Rumah dan Keutamaannya, (3/161)); Ahmad 5/82, dan ia juga bagian dari hadits milik Muslim dalam kitab: Shalatu al-Musafirin wa Qashruha, bab: ash-Shalah fi ar-Rihal fi al-Mathar (Shalat di Dalam Rumah Lantaran Hujan (2/348)), dan juga dalam kitab: al-Masajid, bab: Istihbab Shalatu an-Nafilah fi Baitih wa Jawazih fial-Masjid wa Sawa’fiHadza ar-Ratibah wa Ghairuha (Anjuran Melakukan Shalat Sunnah di Rumah dan Bolehnya di Masjid, Baik itu Shalat Ratibah (Rawatib) atau Lainnya, (2/436)), dari hadits Ibnu Umar bahwasanya Nabi saw bersabda, “Hendaklah kalian menjadikan sebagian dari shalat kalian di dalam rumah-rumah kalian dan jangan kalian menjadikannya laksana kuburan” Sababul Wurud Hadits Ke-17: Hadits tersebut lafazh milik Ahmad 5/182; Dan diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab: al-‘Itsham bil Kitab wa as-Sunnah, bab: Ma Yukrahu min Katsrati as-Su’al wa Takallufi Ma la Ya’nih wa Qauluhu Ta’ala: La Tas’alu ‘an Asyya’a in Tubda Lakum Tasu’kum (Hal-hal yang Dibenci Berupa Banyak Bertanya dan Membebankan Diri dengan Hal yang Tidak Bermanfaat, dan firman Allah ta’ala (yang artinya), “Janganlah kalian bertanya tentang sesuatu yang jika ditampakkan pada kalian akan menyusahkan kalian sendiri.” (9/117)); Muslim kitab: Shalat al-Musafirin seperti pada bab yang terdahulu 2/348; An-Nasa’i dalam kitab: Qiyam al-Lail wa Tathawwu’ an-Nahar 3/161; Dan Ahmad 5/187 dengan lafazh-lafazh yang hampir berdekatan. Kosa Kata: At-tanahnah wa an-nahnahah: seperti an-nahih yaitu suara yang lebih keras dari batuk. Lihat Lisanul Arab 3/452.

Ada Apa Dengan Hari Jum’at ?

 

Ada Apa Dengan Hari Jum’at ?

‪Dalam hadits Muslim disebutkan, bahwa dari Abu Hurairah dan Hudzaifah -radhiallahu ‘anhuma- mereka berkata, “Allah telah merahasiakan hari Jum’at terhadap umat sebelum kita, maka orang-orang Yahudi memiliki hari sabtu, orang-orang Nashrani hari ahad, kemudian Allah mendatangkan umat Islam, maka Dia menunjukkan kita hari Jum’at ini, kemudian Allah menjadikan urutannya menjadi jum’at, sabtu ahad, demikian pula mereka akan mengikuti kita pada hari kiamat, kita adalah umat terakhir di dunia ini namun yang pertama di hari kiamat, yang akan diputuskan perkaranya sebelum makhluk yang lain.” (HR. Muslim)

‪Di dalam hadits lain, Rasulullah Saw. bersabda,“Hari terbaik bagi matahari untuk terbit adalah hari Jum’at, pada hari Jumat Adam diciptakan, dan pada hari Jumat pula dimasukkan ke dalam surga dan pada hari Jumat Adam dikeluarkan dari surga.” (HR. Muslim)

‪Barangsiapa yang berwudhu lantas dia menyempurnakan wudhunya, kemudian dia mendatangi shalat jumat, kemudian dia mendengarkan (khutbah) dan tidak berbicara, maka akan diampuni (dosa-dosa yang dilakukannya) antara hari itu sampai hari jumat depannya, ditambah tiga hari. Dan barangsiapa yang memegang-megang batu kerikil (maksudnya membersihkan debu sekalipun), maka dia telah berbuat lahan (kesia-siaan = waktu tidak dipergunakan mendengarkan khutbah).” (HR. Muslim)

Kisah Sahabat Rasulullah Tsa’labah Bin Abdurrahman Ra

 

 

Tsa’labah bin Abdurrahman adalah salah sahabat yang juga seorang pelayan Nabi SAW. Suatu ketika ia melewati rumah seorang wanita Anshar yang kebetulan pintunya terbuka. Spontan Tsa’labah memandang ke dalamnya, dan ternyata wanita Anshar tersebut tengah mandi. Sesaat ia terpesona melihat pemandangan tersebut, dan ketika sadar, ketakutan yang amat sangat menyelimutinya, takut dan malu jika Nabi SAW mengetahui perbuatannya, apalagi bila turun wahyu yang menjelaskan perbuatan maksiatnya. Karena itu ia lari dari kota Madinah dan bersembunyidi pegunungan antara Madinah dan Makkah.

Nabi SAW yang merasa kehilangan sahabat dan pelayannya tersebut. Beliau terus mencari-carinya dan menanyakan kepada para sahabat lainnya, tetapi tidak ada yang mengetahuinya. Setelah empatpuluh hari berlalu tidak ditemukan, Malaikat Jibril datang kepada beliau dan memberitahukan kalau Tsa’labah berada di pegunungan antara Madinah dan Makkah. Maka Nabi SAW menyuruh Umar bin Khaththab dan Salman al Farisi untuk mencari dan membawa Tsa’labah pulang ke Madinah.

Dua orang sahabat tersebut pergi ke tempat yang ditunjukkan Rasulullah SAW, tetapi ternyata tidak mudah untuk menemukan Tsa’labah. Pada suatu malam, mereka bertemu seorang penggembala bernama Dzufafah, dan menanyakan keberadaan sahabat yang menghilang tersebut. Dzufafah berkata, “Mungkin yang kalian maksudkan, adalah pemuda yang ingin lari dari Neraka Jahanam??”

“Bagaimana engkau tahu ia ingin lari dari Jahanam?” Tanya Umar.

“Jika tengah malam menjelang, ia keluar dari kumpulan kami menuju ke atas bukit. Sambil meletakkan tangannya di kepala, ia menangis dan berkata, : Duhai, seandainya Engkau mencabut ruhku di antara berbagai ruh, jasadku di antara berbagai jasad, janganlah Engkau menelanjangiku di hari pengadilan Kiamat kelak…!!”

“Itulah orang yang kami cari…!!” Kata Umar dan Ammar serentak.

Dzufafah mengantar kedua sahabat tersebut ke tempat di mana Tsa’labah berada. Ketika telah bertemu, dan Umar menyampaikan salam Nabi SAW serta tugas yang diberikan kepada mereka, Tsa’labah berkata, “Apakah Rasulullah SAW mengetahui dosaku?”

“Aku tidak tahu,” Kata Umar, “Tetapi beliau menyebut namamu dengan lirih dan sembunyi-sembunyi kemudian mengutusku dan Salman untuk menjemputmu…!!”

“Wahai Umar,” Kata Tsa’labah, “Janganlah engkau pertemukan aku dengan Rasulullah SAW, kecuali saat beliau sedang shalat, atau Bilal sedang mengucapkan : Qad iqamatish shalah!!”

“Baiklah!!” Kata Umar.

Mereka bertiga kembali ke Madinah. Setibanya di sana mereka langsung masuk masjid, saat itu Nabi SAW sedang shalat. Begitu mendengar bacaan Nabi SAW dalam shalat tersebut, Tsa’labah langsung pingsan. Berhari-hari lamanya Tsa’labah menahan kerinduan untuk mendengar dan menatap wajah yang penuh mulia tersebut, tetapi ia juga dilanda ketakutan dan kekhawatiran akan kemarahan Nabi SAW karena perbuatan dosanya. Konflik perasaan yang begitu hebat mencapai puncaknya ketika ia melihat dan mendengar suara Nabi SAW secara langsung, sehingga ia jatuh pingsan.

Setelah mengucap salam menutup shalatnya, Nabi SAW melihat keberadaan Umar dan Salman, dan keduanya membawa beliau kepada Tsa’labah yang sedang pingsan. Nabi SAW meletakkan kepalanya di pangkuan beliau dan beusaha menyadarkannya. Begitu ua sadar, beliau bersabda, “Apa yang membuatmu lari dariku, wahai Tsa’labah!!”

“Dosaku, ya Rasulullah,” Kata Tsa’labah.

“Maukah engkau kuajarkan suatu ayat yang bisa menghapuskan dosa dan kesalahan?” Kata Nabi SAW.

Tsa’labah mengiyakan, dan beliau bersabda, “Ucapkanlah : Allahumma rabbanaa aatinaa fid dunya hasanah, wa fil aakhirati hasanah, waqinaa adzaabannar.”

“Ya Rasulullah, dosaku lebih besar daripada itu…!!”

“Tetapi Kalamullah pastilah lebih besar…” Kata Nabi SAW meyakinkannya.

Tsa’labah tidak menjawab lagi, walau mungkin ia belum yakin benar. Bukan karena ia tidak percaya dengan ucapan Rasulullah SAW, tetapi lebih karena ia merasa dosanya begitu besarnya, sehingga Allah tidak akan dengan mudah begitu saja mengampuni dosanya. Dalam beberapa riwayat lainnya disebutkan, Tsa’labah tidak hanya melihat, tetapi terjatuh dalam perzinahan dengan wanita tersebut. Melihat keadaannya itu, Nabi SAW menyuruhnya pulang ke rumahnya, tetapi sampai di rumahnya ia jatuh sakit.

Setelah tiga hari menderita sakit dan tidak bangkit dari tempat tidurnya, Salman melaporkan keadaan Tsa’labah kepada Nabi SAW. Beliau mengajaknya mengunjungi rumahnya, dan setibanya di sana, beliau meletakkan kepala Tsa’labah di pangkuan beliau, tetapi Tsa’labah menarik kepalanya. Nabi SAW berkata, “Mengapa engkau menarik kepalamu dari pangkuanku, ya Tsa’labah!!”

“Karena penuh dosa, ya Rasulullah…!” Kata Tsa’labah.

“Apa yang engkau rasakan?”

“Ya Nabiyallah, aku merasa seperti ada semut-semut yang merayap di sekujur kulit dan tulangku!” Kata Tsa’labah.

“Apa yang engkau inginkan?” Tanya Nabi SAW.

“Ampunan Allah…!!”

Maka Nabi SAW memberikan pengajaran kepadanya tentang hakikat dosa dan taubat, tentang keluasan Rahmat Allah dan Maghfirah-Nya, tentang larangan berputus asa dari rahmat Allah, dan beberapa hal yang berkaitan dengan hal tersebut. Tampak jelas penyesalan di wajahnya, dan airmatanya tak henti mengalir. Tetapi tiba-tiba terbayang lagi satu dosa yang telah dilakukannya itu, Tsa’labah berteriak keras penuh ketakutan dan seketika meninggal dunia.

Nabi SAW mengajak beberapa sahabat mengurus jenazahnya, bahkan beliau sendiri yang memandikan dan mengkafaninya. Usai dishalatkan, beliau ikut memikul jenazahnya ke kuburnya, tetapi beliau berjalan sambil berjingkat. Beberapa sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami melihat engkau berjalan berjingkat, ada apakah kiranya?”

Nabi SAW bersabda, “Aku hampir tidak dapat meletakkan kakiku di tanah karena banyaknya malaikat yang ikut ta’ziah dan mengiring jenazahnya…

Dari Mana Datangnya Rukun Shalat  ?

 

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Rukun Shalat sebagai sebuah istilah tentu tidak ada di zaman Rasulullah SAW. Sebab istilah itu datang dari para ulama fiqih sepeninggal Rasulullah SAW. Istilah-istilah itu dibuat justru untuk memudahkan pelajaran tentang shalat.
Para ulama mazhab seperti Abu Hanifah, MAlik, Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal adalah para pelopor dalam dunia fiqih. Mereka yang melakukan penelitian secara ilmiyah dan membuat klasifikasi hukum suatu ibadah. Ada syarat, rukun, wajib, sunnah, yang membatalkan dan seterusnya.
Dengan adanya klasifikasi itu, umat menjadi semakin dimudahkan dan semakin dibuat punya konsepyang jelas tentang suatu ibadah. Tidak sekedar menduga-duga atau menafsirkan sendiri-sendiri, sementara mereka belum tentu punya kemampuan di bidang ijtihad.
Sekedar untuk tambahan pengetahuan, hasil ijtihad imam yang empat ini terkadang sama, namun seringkali juga berbeda. Ada banyak faktor penyebabnya. Namun satu hal yang pasti, semua mengacu dan berpegangan kepada sunnah Rasulullah SAW.
Tidak ada satu pun dari mereka yang membuat agama sendiri. Semua berupaya untuk menjabarkan sunnah Rasululullah SAW, tentu dengan pemahaman, versi dan sudut pandang mereka. Sedangkan ilmu mereka tentunya sudah mumpuni dan memnuhi persyaratan yang paling dasar.

Wallohu a’lam bisshowab

Jangan Katakan ” Celakalah Setan !!! “

 

لا تَقُلْ تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ: تَعِسَ الشَّيْطَانُ تَعَاظَمَ وَقَالَ: بِقُوَّتِي صَرَعْتُهُ وَإِذَا قُلْتَ: بِاسْمِ اللَّهِ تَصَاغَرَ حَتَّى يصير مثل الذباب وغلب

Janganlah engkau katakan, “Celakalah setan.” Karena sesungguhnya jika engkau katakan, “Celakalah setan, “maka ia menjadi bertambah besar, lalu mengatakan, “Dengan kekuatanku, aku kalahkan dia.” Tetapi jika engkau katakan, “Bismillah, “maka mengecillah ia hingga menjadi sekecil lalat.

( Rowahu Imam Ahmad )

Dan di dalam hadis ini terkandung makna yang menunjukkan bahwa hati itu manakala ingat kepada Allah, setan menjadi mengecil dan terkalahkan. Tetapi jika ia tidak ingat kepada Allah, maka setan membesar dan dapat mengalahkannya.

Alloh Maha Menerima Taubat

 

عن أبي مُوسى عَبْدِ اللَّهِ بنِ قَيْسٍ الأَشْعَرِيِّ رضِي الله عنه عن النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال: « إِن الله تعالى يبْسُطُ يدهُ بِاللَّيْلِ ليتُوب مُسيءُ النَّهَارِ وَيبْسُطُ يَدهُ بالنَّهَارِ ليَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ حتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِن مغْرِبِها »

رواه مسلم

Dari Sayyidina Abu Musa Abdullah bin Qais al-Asy’ariرضِي الله عنه dari Rasulullah صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم bersabda yang maksudnya:

“Sesungguhnya Allah Ta’ala itu membeberkan tanganNya – yakni kerahmatanNya -di waktu malam untuk menerima taubatnya orang yang berbuat kesalahan di waktu siang dan juga membeberkan tanganNya di waktu siang untuk menerima taubatnya orang yang berbuat kesalahan di waktu malam. Demikian ini terus menerus sampai terbitnya matahari dari arah barat – yakni di saat hampir tibanya hari kiamat, kerana setelah ini terjadi, tidak diterima lagi taubatnya seseorang.”

(HR.MUSLIM )

Bolehkah Kita Tidur di dalam Masjid  

Bolehkah Kita Tidur di dalam Masjid

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Para ulama punya fatwa yang berbeda-beda dalam masalah tidur di dalam masjid. Namun umumnya mereka membolehkan bagi musafir dan orang-orang yang beri’tikaf (mu’takif) untuk tidur dan beristirahat di dalam masjid.
1. Mazhab Al-Hanafiyah
Mazhab Al-Hanafiyah memakruhkan tidur di dalam masjid, namun buat musafir yang tidak punya tempat singgah, tidak dimakruhkan untuk tidur dan beristirahat di dalam masjid.
Demikian juga buat mereka yang beri’tikaf, mazhab ini membolehkan tidur di dalam masjid. Karena dalam i’tikafnya, Rasulullah SAW pun tidur di dalam masjid. Dan selama i’tikaf tidak perlu keluar dari masjid untuk urusan tidur.[1]
2. Mazhab Al-Malikiyah
Mazhab Al-Malikiyah membolehkan membolehkan buat mereka yang tidak punya rumah atau musafir untuk tidur di masjid, baik tidur di siang hari atau pun di malam hari. [2]
Bahkan buat mereka yang sedang beri’tikaf, mazhab ini mewajibkan para mu’takifin tidur di dalam masjid. Bila orang yang beri’tikaf tidak sampai tidur di dalam masjid, maka dalam mazhab ini dipandang bahwa i’’tikafnya itu tidak sah.[3]
3. Mazhab Asy-Syafi’iyah
Mazhab Asy-Syafi’iyah tidak mengharamkan tidur di dalam masjid. Dasarnya karena para shahabat banyak yang tidur di dalam masjid, bahkan mereka tinggal dan menetap di dalam masjid.
Di dalam kitab Al-Umm karya besar Al-Imam Asy-syafi’i rahimahullah disebutkan lewat riwayat Nafi’ bahwa Abdullah bin Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhu ketika masih bujangan juga termasuk pemuda penghuni masjid, dimana beliau tidur di dalam masjid. [4]
Amr bin Dinar mengatakan,”Kami menginap di dalam masjid di zaman Ibnu Az-Zubair. Dan bahwa Said bin Al-Musayyib, Hasan Al-Bashri, Atha’ dan Asy-Syafi’i memberikan rukhshah (keringanan) dalam masalah ini”.[5]
Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
[1] Fathul Qadir jilid 1 halaman 300
[2] Asy-Syarhul Kabir wa hasyiyatu Ad-Dasuki jilid 4 halaman 70
[3] Jawahirul Iklil jilid 1 halaman 158
[4] Fathul Bari jilid 1 halaman 535
[5] I’lamussajid bi ahkamil masajid li Adz-Dzarkasyi halaman 305-306